
Karena
kecepatannya yang jauh lebih cepat dari desingan peluru, sampah itu menjadi
ancaman terhadap satelit-satelit yang membantu pihak militer berhubungan satu
sama lain dan mengumpulkan intelijen dan memasok kecanduan dunia akan Google
Earth dan film on-demand.
Hingga tahun
lalu, seperti dikutip dari Washington
Post, Rabu (7/5/2014), Pentagon menggunakan Space Fence atau Pagar Angkasa
untuk melacak sampah angkasa dan memberi peringatan kemungkinan tabrakan yang
memungkinkan para pemilik untuk menggeser satelitnya dari lintasan sampah itu.
Tapi sistem
tersebut hanya mampu menangani sebagian kecil sampah itu, dan telah selesai
dipakai tahun lalu. Saat ini Angkatan Udara menginginkan sistem yang lebih
modern yaitu Space Fence yang baru.
Kontraknya masih
akan diberikan dalam beberapa minggu ke dapan, dan program ini dirancang
sebagai upaya terbaik manusia sejauh ini untuk melacak polusi angkasa. Namun
begitu, Space Fence yang baru ini tidak membersihkan angkasa.
"Ada sangat
banyak benda di atas sana, dan dampak yang diberikan oleh Space Fence baru
adalah untuk melacak benda-benda itu lebih banyak lagi dan lebih kecil
lagi," kata profesor urusan keamanan nasional di Naval War College, AS, Johnson-Freese.
Melacak
serpihan-serpihan ini, lanjut dia, memang diperlukan, namun tidak mencukupi.
"Kita perlu mengupayakan rencana kegiatan pembersihan."
Sampah Kecil
Pagar yang
dimaksud di sini bukanlah pagar dalam artian harafiah, tapi merupakan radar frekuensi
tinggi yang berperan seperti suatu sinar lampu senter di ruang gelap yang
menyinari kerumunan-kerumunan kecil debu angkasa.
Semua kerumunan
kecil debu ini dicatat dan terus dilacak sewaktu mereka melintasi radar
berulang-ulang, hingga akhirnya seorang analis yang menggunakan basis data
komputer dapat memperkirakan di mana kepingan-kepingan itu akan berada
nantinya, dan ketika mereka sudah cukup dekat untuk bertabrakan dengan sesuatu.
Menurut badan
antariksa AS yakni NASA, sistem baru ini vital, karena memungkinkan untuk mampu
melacak lebih banyak lagi kepingan yang berukuran lebih kecil, yang mampu
mengelilingi Bumi dengan kecepatan hingga lebih dari 27.350 kilometer per jam.
Pada kecepatan setinggi itu, bahkan benda bergaris tengah 1 cm saja dapat
menghajar benda lain selayaknya bola bowling berkecepatan 480 kilometer per
jam.
"Sistem itu
mutlak diperlukan," kata analis pertahanan di Center for Strategic and
Budgetary Assessments Todd Harrison. "Beginilah cara pertahanan yang
paling mendasar: kamu tidak dapat bertahan melawannya, jika kamu tidak
mengetahui ada apa di sana… Dan kita tidak ingin melakukan pertaruhan dengan sistem
angkasa militer kita."
Setelah suatu
pertarungan ketat yang berlangsung beberapa tahun dan telah mengeluarkan biaya
prototip senilai jutaan dolar AS, lelang tingkat tinggi ini mengerucut kepada
dua pesaing: Lockheed Martin dan Raytheon.
"Kami
percaya pagar angkasa bersifat kritikal, bukan hanya untuk negara kita, tapi
untuk seluruh dunia,” kata Wakil Presiden di Lockheed, Steve Bruce. "Kita
bergantung kepada ruang angkasa untuk hampir segala hal. Dan jika kita tidak
dapat menjaga peralatan di angkasa secara aman, tentulah ada pengaruh besar
kepada ekonomi dunia. Apalagi jika bicara soal keamanan nasional."
Juru bicara
Raytheon, Mike Nachshen mengatakan, perusahaannya "Yakin dengan solusi
kami dan menantikan keputusan Angkatan Udara."
Pihak Angkatan
Udara berencana membangun setidaknya satu sistem radar yang akan ditempatkan di
Kepulauan Marshall di Samudera Pasifik. Ada kemungkinan untuk sistem kedua yang
ditempatkan di Australia bagian barat.
Sekarang ini
pihak Departemen Pertahanan melacak sekitar 20.000 benda dengan penjejas dan
radar lain. Tapi sistem pagar yang baru ini mampu melacak hingga 10 kali lipat.
Bisa juga untuk menandai benda-benda yang lebih kecil bahkan hingga seukuran
bola golf.
Berdasarkan
daftar benda-benda angkasa yang ada, nantinya analis memperkirakan kemungkinan
tabrakan, seperti yang pernah diceritakan dalam film “Gravity.” (Namun
benda-bendanya bergerak sedemikian cepatnya sehingga para ilmuwan menyatakan
tidaklah mungkin antariksawannya melihat kedatangan benda-benda itu.)
Dan supaya lebih
dari 1100 satelit yang ada sekarang ini—ditambah dengan stasiun angkasa
internasional dan teleskop Hubble—bisa menghindar dari tabrakan, tentulah
diperlukan peringatan yang sangat dini.
Pada tahun 2012,
AS menerbitkan lebih dari 10000 peringatan nyaris tabrakan, kepada para pemilik
satelit AS maupun internasional, hingga membantu 75 "gerakan
mengelak". Satelit menguras energi untuk mengelak dari tabrakan.
"Semuanya
dapat diperkirakan," kata mantan perwira Angkatan Udara dan penasihat
teknis untuk Secure World Foundation, Brian Weeden. "Mereka memperkirakan
ke mana pergerakan benda-benda untuk tiga, empat, hingga seminggu ke depan dan
mencari-cari yang sedang mendekat."
Kenyataannya,
terlalu banyak serpihan angkasa yang berseliweran di angkasa sehingga ada
tabrakan yang tidak terhindarkan.
Dengan menyadari
stasiun angkasa international itu akan dikerumuni oleh segala jenis sampah
seperti mur, baut, bahkan serpihan cat yang menyebabkan kerusakan, stasiun itu
dirancang sebagai "pesawat angkasa yang paling terlindungi," ujar
NASA, sehingga "dapat menyintas tumbukan dengan serpihan-serpihan yang
berukuran lebih kecil."
NASA
memperlengkapi antariksawan dengan baju angkasa yang dilapisi dengan lapisan
bahan yang dipakai untuk jaket antipeluru untuk melindungi mereka dari
benda-benda angkasa yang berseliweran. Space
shuttle juga dirancang untuk menghadapi terpaan bahaya sejenis itu,
dan seringkali kembali ke Bumi dengan lubang-lubang kecil atau bahkan retakan
di jendela-jendelanya, yang sudah dibuat lapis tiga untuk perlindungan.
Tabrakan Menambah Sampah
Ruang angkasa
dulunya tidak terlalu polusi. Tapi sejak Sputnik diluncurkan di tahun 1957,
sampah semakin banyak. Sisa roket pendorong yang berisi bahan bakar yang
kemudian meledak. Satelit gagal yang ditinggalkan di orbit yang telah meluruh.
Dan sampah menghasilkan sampah, karena tabrakan dengan sampah angkasa
menghasilkan lebih banyak lagi sampah, yang bahkan menyebabkan lebih banyak
lagi tabrakan.
Kebanyakan dari
sampah itu terkait dengan dua kejadian, yang telah menambah ribuan keping
sampah ke angkasa dan memperparah persoalan tapi sekaligus meningkatkan
kesadaran tentang membesarnya kumpulan sampah ini.
Tahun 2007,
China meledakkan salah satu satelit cuacanya yang telah mati, dan dua tahun
kemudian, satelit komunikasi milik AS yang masih aktif menabrak satelit Rusia
yang sudah rusak.
Salah satu
jawaban masalahnya adalah dengan membatasi jumlah sampah yang kemungkinan
memasuki angkasa.
Beberapa
pendorong roket sekarang dirancang untuk jatuh ke bumi lebih dini, sehingga
dalam 25 tahun ke depan, mereka menabrak atmosfer dan meluruh. Pendorong itu,
yang masih membawa sisa bahan bakar, akan dibuat dengan saluran-saluran yang
memungkinkan keluarnya bahan bakar, yang membantu pendorongannya agar tidak
meledak.
Bahkan kamera-kamera
satelit sekarang dirancang untuk mencegah polusi angkasa. "Pada masa lalu,
kamu membuang tutup lensanya, dan selalu menjadi sampah," kata insinyur
kawakan di Rand Corp, Dave Baiocchi. "Sekarang mereka mencantelkan tutup
lensanya."
Jawaban terbaik
tentunya dengan melakukan bersih-bersih. Tapi hal itu jauh lebih sulit dari
dugaan, kata profesor di Naval War College, Jonhnson-Freese.
Biayanya sangat
tinggi, dan membersihkan angkasa tidak sama dengan program dalam negeri yang
bisa mendapat dukungan Kongres AS. Pasti ada tarik-menarik internasional.
Negara-negara tetap memiliki sampah yang telah mereka luncurkan ke angkasa, dan
negara lain, misalnya China, tentu tidak akan senang jika AS memutuskan untuk
menghancurkan salah satu satelit mereka.
"Ada permasalahan
hukum," kata Johnson-Freese. "Belum ada peraturan tentang pengolahan
limbah di angkasa. Bahkan jika kita memiliki kemauan politik untuk mengolah
sampahnya, yang saya kira belum kita lakukan, kita tidak boleh menurunkan
bagian-bagian besar sampahnya karena kita tidak memilikinya."
Beberapa ilmuwan
Swiss sedang mengerjakan apa yang disebut dengan "satelit pembersih"
yang layaknya suatu truk sampah di orbit, CleanSpace One, untuk menyingkirkan
sampah angkasa.
Ada beberapa
perbincangan tentang "mengadakan pungutan wajib di setiap peluncuran"
yang akan dikumpulkan menjadi dana global untuk membantu pembersihan angkasa,
kata Baiocchi. Namun hal ini masih dalam tahap awal sekali. "Ini kawasan
antah berantah," ujarnya.
Walaupun film
"Gravity" meningkatkan kesadaran akan adanya persoalan sampah
angkasa, Johnson-Freese tidak yakin akan ada tindakan nyata menyingkirkan
sampah angkasa hingga adanya kejadian tabrakan yang "mengganggu
orang-orang, dan masyarakat umum sehingga bertanya kenapa telepon seluler saya
tidak bekerja?"
Posting Komentar