Featured Post Today
print this page
Latest Post

Salam dari Bumi! Satelit NASA Kirim Pesan untuk Alien


 Washington DC - Satelit Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) yang akan segera meninggalkan tata surya setelah menyelesaikan misi di Pluto mendapat tugas baru: membawa pesan yang ditujukan untuk segala bentuk kehidupan alien nun jauh di sana.

Ketika misi New Horizons merampungkan studi Pluto pada musim panas 2015, data dari Bumi akan di mengalir ke pesawat tersebut antariksa, untuk menciptakan rekaman digital yang akan dibawa menempus tepian tata surya. Rekaman tersebut mirip  Golden Record, yang dibawa pesawat Voyager 1 dan Voyager 2 pada tahun 1970-an dan dipasang di pesawat Pioneer.
Pesan baru itu adalah gagasan Jon Lomberg, yang pernah menjabat direktur desain Voyager Golden Record NASA yang bekerja sama dengan mendiang astronom Carl Sagan dan 4 orang lain memilih sejumlah suara dan gambar yang dikombinasikan pada  piringan hitam. Untuk mewakili gambaran Bumi kala itu.

Saat Lomberg menyadari bahwa New Horizons akan menjadi obyek selanjutnya yang akan meninggalkan tata surya, ia berinisiatif meluncurkan petisi untuk menyertakan pesan ke dalam satelit itu. Yang disebut One Earth Message.
Pada 18 Februari 2014, Lomberg mengumpulkan 10.000 tanda tangan dari 140 negara berbeda. Pada bulan Mei di tahun yang sama, dalam festival "The Future is Here" yang diadakan majalah Smithsonian di Washington DC, ia mengumumkan bahwa NASA memberi lampu hijau pada timnya untuk melanjutkan proyek tersebut.

Masalahnya, New Horizons keburu meluncur duluan pada 2006. Lomberg tak menyerah. Alih-alih artefak fisik, ia menyarankan untuk membuat versi dijital dengan cara mengirimkan data ke pesawat luar angkasa itu setelah ia menyelesaikan studi di Pluto dan bulannya Charon: "digital Voyager record 2.0."

"Sejarah artefak pesan angkasa luar seiring dengan histori perkembangan teknologi komunikasi," kata dia, seperti kutip dari situs sains SPACE.com, Selasa (24/6/2014).

Plakat yang disertakan dalam pesawat Pioneer 10 dan 11, diluncurkan pada Maret 1972 dan April 1973, berupa gambar yang terukir pada logam dan batu. Sementara, pesan yang dibawa Voyager berupa piringan hitam yang hanya sedikit orang yang bisa mengoperasikannya saat ini. Sementara, misi Phoenix ke Mars membawa rekaman digital literatur dan seni tentang Planet Merah pada 2007.

Isi One Earth Message berbeda sama sekali dengan pesan dalam proyek Voyager. Ia akan membawa pesan-pesan yang dikumpulkan dari seluruh dunia. "Siapapun yang berpartisipasi punya kesempatan mengirim foto yang mereka ambil dibawa jauh melampaui Pluto, menuju bintang-bintang," kata Lomberg.

Bekerja sama dengan ilmuwan riset dari University of California, San Diego, Albert Yu-Min Lin, Lomberg berencana melibatkan banyak orang dalam proyeknya itu.
Lin punya pengalaman menyatukan warga dunia yang memiliki penjelasan ilmiah, termasuk dalam proyek Khan, di mana orang-orang dari seluruh dunia menyisir satelit untuk mencari makam Gengis Khan. Ia juga pernah menyatukan 8 juta orang bersama untuk mencari pesawat Malaysia Airlines MH370.

Inspirasi untuk Masa Depan


Ketika New Horizons menyelesaikan misinya dan mengirim data-data kembali ke Bumi, akan ada banyak ruang kosong dalam memori komputernya untuk menampung banyak rekaman dari planet manusia.

One Earth Message akan dikirim ke ke satelit, sebuah proses yang akan menyita waktu beberapa hari.

Tak seperti rekaman sebelumnya, informasi dalam New Horizons tak statis. Selama masih terhubung dengan Bumi, pesan yang ada di sana bisa diperbarui.

Kalaupun pesawat itu tak bisa ditemukan makhluk ekstraterresterial, atau mungkin pesannya tak bisa diuraikan, Lomberg menekankan bahwa prosesnya berpotensi menyatukan banyak orang dari berbagai latar belakang. Mengingatkan kembali arti penting menjadi bagian dari komunitas global.

"Selama lebih dari 40 tahun, orang-orang terinsipirasi rekaman Voyager, potret Bumi pada tahun 1977," kata Lomberg. "Bumi sudah sangat berubah saat ini, dan pesan baru ini akan merefleksikan harapan dan impian dekade ke dua dalam Abad ke-21. Itu akan menginspirasi generasi muda agar tertarik pada sains dan memicu imajinasi dari segala usia." (Yus)

0 komentar

Ini Foto Tuan Rumah Piala Dunia 2014 dari Luar Angkasa

http://cdn1-e.production.liputan6.com/medias/691985/big/brazil_vir_20130804_detail.jpg
 Houston - Dunia sedang dilanda demam Piala Dunia. Di tengah segala masalah dan konflik yang melanda, jutaan pasang mata melihat ke satu titik: Brasil, yang menjadi tuan rumah laga bola sejagad 2014. Tendangan pembuka (kick off) laga bola akbar ke-20 telah dilakukan pada 12 Juni 2014 lalu di Sao Paulo, Brasil.
Kemeriahan juga menular ke luar Bumi. Tak hanya para astronot dan kosmonot yang ikut-ikutan bermain bola dalam kondisi gravitasi mikro. Satelit di angkasa luar tak ketinggalan mengabadikan agenda 4 tahunan itu.

Seperti  kutip dari situs sains LiveScience, dua kota yang paling padat penduduknya di Brasil, Sao Paulo dan Rio de Janeiro terlihat terang dalam 2 gambar satelit yang diambil 4 Agustus 2013, dan dirilis 13 Juni 2014 oleh Earth Observatory NASA.
http://cdn1-e.production.liputan6.com/medias/691984/big/Pororo.png?t=2103731688

Brasil adalah rumah bagi 200 juta warganya, membentang sekitar 2.485 mil atau 4.000 kilometer dari pantai ke pantai. Dengan luas mencapai 8,5 juta km persegi, Negeri Samba menjadi negara kelima dengan area paling luas di Bumi. Diperkirakan 600 ribu wisatawan akan berbondong-bondong ke negara itu untuk menonton pertandingan Piala Dunia.

Seperti Olimpiade, Piala Dunia diadakan setiap 4 tahun. Ini adalah kali pertamanya, sejak tahun 1950, Brasil menjadi tuan rumah. Sebanyak 32 tim akan bertanding di pertandingan final yang akan diadakan di Rio de Janeiro. Sepanjang sejarah, negara di Amerika Selatan itu 7 kali masuk final, dan memenangkan 5 laga di antaranya.

Gambar yang baru dirilis diambil dengan instrumen Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) yang berada di satelit Suomi NPP satellite. Instrumen tersebut menggunakan "day-night band", yang bisa mendeteksi berbagai panjang gelombang cahaya. Bahkan VIIRS bisa menangkap cahaya redup 10 ribu kali lipat dari detektor biasa -- yang memungkinkan untuk menangkap cahaya bulan, lampu-lampu kota di malam hari dan bahkan lapisan awan.

Tak seperti kamera biasa, VIIRS menangkap gambar dengan memindai area beberapa kali dan kemudian menerjemahkannya ke dalam jutaan piksel. Kemudian tiap piksel dianalisa dan ditentukan apakah memerlukan paparan (exposure) rendah, sedang, atau tinggi. Jika gambar cerah, satelit akan menggunakan mode low-exposure sehingga gambar tidak terlihat jenuh. Jika pixel samar, maka satelit menggunakan mode paparan tinggi  (high exposure) untuk membuatnya terang.

Sementara itu, seperti dimuat situs sains SPACE.com, pesawat luar angkasa Eropa menangkap proses konstruksi stadion raksasa Piala Dunia yang megah namun kontroversial.

Badan Antariksa Perancis (CNES) merilis gambar stadion Piala Dunia Brasil dari 2 satelit Pleiades, yang diluncurkan pada 2011 dan 2012, yang bertujuan untuk mengambil gambar Bumi dari angkasa.

Salah satu gambar berasal dari April 2013, menunjukkan Corinthians Arena di Sao Paulo -- di mana Brasil mengalahkan Kroasia 3-1 Kamis lalu -- masih berupa kerangka. Atapnya yang dari logam sedang dirangkai, tempat parkir masih dibangun. Bagian tengah lapangan masih tandus, belum dipasangi petak-petak rumput.
http://cdn0-e.production.liputan6.com/medias/691987/big/pleiades-construction.jpg?t=1878556029

Setahun kemudian, pada April 2014, gambar satelit menunjukkan crane masih berada di lokasi pembangunan sementara bagian atap masih terus dikerjakan.
http://cdn1-e.production.liputan6.com/medias/691986/big/arena-pantanal-cuiaba-pleiades.jpg?t=1285771898
0 komentar

Nasa membuat sandal luar angkasa

http://cdn0-e.production.liputan6.com/medias/688830/big/forceshoe.jpg


Dalam blog resminya, Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) memperkenalkan sandal khusus untuk mengumpulkan data tentang seberapa efektif latihan yang dilakukan oleh para astronot.

Dinamakan ForceShoes, sandal ini dirancang khusus oleh perusahaan pemasok produk 3D motion capture yaitu eXsens - berguna untuk membantu para ilmuwan dalam menganalisis kinerja astronot setiap kali mereka latihan menahan beban.

Di bagian bawah sandal ini terdapat dua power meter yang menyimpan data rekor dari para astronot saat latihan menggunakan peralatan yang dipasang di Stasiun Antariksa Internasional. Demikian seperti dikutip dari Cnet, Rabu (11/6/2014).

Bukan itu saja, sandal ini juga dapat mengumpulkan data tentang perilaku latihan astronot, tidak hanya ketika mereka berada di bumi, tetapi juga ketika mereka berada di sebuah misi ruang angkasa.

Desainnya sendiri terlihat seperti sandal untuk aktivitas luar ruangan, terkesan kokoh namun tetap terlihat modis. Tujuannya adalah agar ForceShoes bisa tetap nyaman digunakan oleh para astronot ketika tengah berada di bumi.
0 komentar

Jejak Planet Alien Ditemukan di Bulan

http://cdn1-e.production.liputan6.com/medias/687291/big/Artist%27s_concept_of_collision_at_HD_172555.jpg
 Goettingen - Sejak dahulu kala, posisi Bulan yang menonjol di langit malam dan fasenya yang teratur banyak mempengaruhi budaya manusia: bahasa penanggalan, seni, juga mitologi. Satelit alami Bumi itu tak sekonyong-konyong ada, ia terbentuk dari sebuah tabrakan kolosal yang terjadi 4,5 tahun lalu. 'Great Impact'.

Belakangan, para peneliti menemukan bukti dunia lain yang menabrak Bumi miliaran tahun -- yang membentuk Bulan -- berdasarkan analisis dari batuan yang dibawa astronot Apollo: Planet Theia.

Temuan para ilmuwan tersebut menguatkan teori bahwa Bulan tercipta lewat ledakan dahsyat. Studi tersebut dimuat dalam jurnal ilmiah, Science.

Bahwa Bulan terbentuk dari tabrakan dahsyat antara Theia dan Bumi telah diterima secara luas.
http://cdn1-e.production.liputan6.com/medias/687292/big/moon.jpg?t=1651051713
Theia (ibu dari Dewi Bulan -- Selene--dalam mitologi Yunani) diperkirakan telah hancur. Puing dan debu planet itu bercampur dengan milik Bumi dan akhirnya membentuk rembulan.

Itu adalah penjelasan paling masuk akal dan cocok dengan simulasi komputer. Masalahnya, kelemahan utama dalam teori tersebut adalah tak ada satu pun yang pernah menemukan bukti Theia di sampel batuan Bulan.

Analisis sebelumnya menunjukkan, batuan Bulan berasal sepenuhnya dari Bumi, padahal analisis komputer menunjukkan, pastilah ada jejak-jejak Theia pada rembulan.

Asal-usul Alien
Kini analisis batuan menunjukkan material satelit alami planet manusia punya asal usul 'alien'. Asing. Menurut peneliti utama, Dr Daniel Herwartz dari University of Goettingen, sebelumnya tak ada satu orang pun yang menemukan bukti definitif dari teori Great Impact itu.

"Bahkan sampai pada tahap di mana sejumlah orang berpendapat tabrakan tersebut tak pernah ada," kata dia seperti Liputan6.com kutip dari BBC, Jumat (6/6/2014).

"Namun kini telah menemukan perbedaan kecil antara Bumi dan Bulan. Sebuah temuan yang mengonfirmasi teori tabrakan besar."

Sejumlah orang mengatakan, perbedaan tersebut bisa dijelaskan oleh puing Teia yang diserap oleh Bumi setelah Bulan terbentuk.

Profesor Alex Halliday dari Oxford University, adalah salah satu yang mengaku terkejut bahwa perbedaan antara material Theia yang ditemukan di batuan Bulan dan Bumi sangat kecil.

"Apa yang Anda cari adalah perbedaan yang jauh lebih besar, sebab apa yang tersisa dari Tata Surya seperti didasarkan pada pengukuran meteorit," kata dia.

Dr  Herwartz mengukur perbedaan dalam apa yang disebut komposisi isotop oksigen yang terkandung dalam batuan di Bumi dan Bulan. 

Sejumlah studi dari meteorit dari Mars dan luar tata surya menunjukkan rasio tersebut amatlah berbeda -- mirip sidik jadi. Sehingga, Profesor Alex Halliday dan sejumlah profesor lain terkejut dengan fakta bahwa sidik jadi Bumi dan Theia terlihat nyaris identik. Dari komposisi yang sama.

Salah satu kemungkinannya adalah, Theia terbentuk amat dekat dengan Bumi dan punya komposisi serupa. Jika itu yang terjadi, meningkatkan kemungkinan bahwa asumsi setiap planet di Tata Surya saat ini memiliki sidik jari yang sangat berbeda,  perlu ditinjau kembali. Demikian menurut Profesor Halliday.

"Hal tersebut menimbulkan pertanyaan seberapa baik meteorit dari Mars dan sabuk asteroid di luar Tata Surya menjadi representatif Tata Surya bagian dalam? Sayang, kita tidak punya sampel dari Merkurius dan Venus," kata dia.

"Mereka mungkin akan mirip dengan Bumi. Jika itu terjadi maka semua argumen atas kesamaan dari Bumi dan Bulan, runtuh."

Sementara, Dr Mahesh Anand dari The Open University mengatakan, penelitian yang dilakukan Dr Daniel Herwartz menarik. Namun, ia mengingatkan, data tersebut hanya berasal dari 3 sampel batuan Bulan.

"Kita harus berhati-hati soal derajat keterwakilan 3 batu tersebut mewakili seluruh Bulan. Jadi, analisis  lebih lanjut dari berbagai batuan Bulan diperlukan untuk konfirmasi lebih lanjut," kata dia.

Tak hanya Great Impact. Sejumlah teori lain juga ditawarkan untuk menjelaskan mengapa komposisi Bumi dan Bulan sangat mirip. Salah satunya Bumi berputar lebih cepat sebelum peristiwa tabrakan. Atau, Theia berukuran lebih besar dari yang diasumsikan oleh model.

Teori alternatif lain yang kontroversial adalah yang diajukan Profesor Rob de Meijer dari  Groningen University, Belanda. Dia mengatakan, kerak dan mantel Bumi copot dan tertiup ke angkasa luar dengan akumulasi bahan nuklir 2.900 km di bawah permukaannya. Puing-puing itulah yang mengelompok untuk membentuk Bulan.

Dia mengatakan, temuan baru yang menunjukkan bahwa ada perbedaan dalam komposisi Bumi dan Bulan -- tidak akan mengubah pandangannya.

"Perbedaannya sangat kecil," kata Profesor  Rob de Meijer. "Kita tak tahu bagaimana persisnya Bulan terbentuk. Apa yang kita butuhkan adalah misi berawak ke Bulan untuk mencari batu yang lebih dalam di bawah permukaannya, yang belum tercemar oleh dampak meteorit dan angin matahari."
0 komentar

Gambar Menakjubkan 10.000 Tata Surya Bidikan NASA

http://cdn0-e.production.liputan6.com/medias/686149/big/o-HUBBLE-UV-900.jpg
Baltimore - Begitu banyak pertanyaan dalam benak kita mengenai alam semesta ini. Pemanfaatan Teleskop Angkasa Hubble memang memuaskan sebagian rasa penasaran kita, namun malah menambah pertanyaan kita tentang alam semesta. Berikut ini berita tentang suatu gambar yang menakjubkan yang diambil teleskop itu sebagaimana dilansir dari The Huffington Post, 3 Juni 2014.
NASA menyebutnya sebagai gambar paling meriah yang pernah ditangkap oleh Teleskop Angkasa Hubble—sekaligus yang paling lengkap. Pastinya juga merupakan yang paling spektakuler.
Gambar itu merupakan hasil memuaskan dari suatu penjajakan Cakupan Ultraviolet Medan Ultra Dalam Hubble (Ultraviolet Coverage of the Hubble Ultra Deep Field). Tapi gambar itu lebih dari sekedar indah saja: gambar itu juga membantu melengkapi pengertian kita tentang bagaimana bintang-bintang terbentuk.
Versi-versi Medan Ultra Dalam Hubble sebelumnya menangkap panjang-panjang gelombang cahaya mulai dari cahaya terlihat hingga mendekati inframerah bahkan hingga ultraviolet jauh, demikian tertulis di situs web NBC News. Sayangnya, cahaya yang mendekati ultraviolet belum termasuk di dalamnya.
Ketika ditambahkan cahaya ultraviolet, penampakannya lebih menarik! Gambar baru itu, yang merupakan kompilasi cuplikan-cuplikan sepanjang 841 kali orbit Hubble antara tahun 2003 dan 2012, berisi setidaknya 10.000 tata surya dalam segala bentuk dan ukuran.
“Tata surya menunjukkan segala bentuk dan ukuran yang mungkin, kata ahli perbintangan Phil Plait yang dilaporkan melalui terbitan Slate.
“Banyak yang penyok karena bertumbukkan dengan tata surya lain, atau gaya tarik bersama yang membentuk mereka menjadi bentuk-bentuk aneh berukuran panjang hingga quadrillion kilometer,” lanjutnya.
“Banyak yang berwarna biru, yang menunjukkan kegiatan pembentukan bintang, sedangkan yang lainnya berwarna merah, mungkin tata surya yang lebih jauh lagi sehingga cahayanya sampai kepada kita belakangan. Simaklah bahwa kebanyakan tata surya yang sangat merah merupakan titik-titik kecil, suatu pertanda lain tentang betapa jauhnya jarak mereka.”
Teleskop Angkasa Hubble dinamai sesuai dengan nama ahli perbintangan Edwin Hubble. Teleskop ini merupakan upaya bersama antara NASA dengan Badan Angkasa Eropa (European Space Agency—ESA). Teleskop itu diluncurkan di tahun 1990 dan telah terus menakjubkan kita sejak saat itu.


0 komentar

Ilmuwan Temukan Planet Kepler-10c, Godzilanya Bumi!

http://cdn1-e.production.liputan6.com/medias/685584/big/godzilla-of-earths-planet-kepler-10c.jpg

Boston - Ada kelas baru planet di luar sana yang disebut para astronom  'mega-Earth' atau 'mega-Bumi'. Yakni objek dengan permukaan keras seperti planet manusia, namun ukurannya jauh lebih besar -- bahkan jika dibandingkan dengan 'super-Earth' (planet yang ukurannya sedikit lebih besar dari Bumi).

Penentuan kelas baru menyusul penemuan planet baru yang memiliki diameter lebih dari 2 kali lipat dibandingkan Bumi dan memiliki berat massa 17 kali dari dunia kita. 

Dinamai Kepler-10c, planet baru tersebut mengorbit bintang yang jauhnya sekitar 560 tahun cahaya jauhnya dari Bumi di konstelasi Draco setiap 45 hari. Para ilmuwan menjelaskan temuan mereka secara detil dalam pertemuan American Astronomical Society di Boston, Amerika Serikat. 

Para astronom mengaku terkejut karena planet yang besar dan lebih pekat ini bisa tetap solid tanpa kehilangan atmosfer. Padahal secara teoritis, planet yang berukuran besar akan menarik begitu banyak hidrogen, seperti yang terjadi pada Neptunus dan Yupiter. 

"Cara yang tepat untuk menyebutnya adalah sesuatu yang lebih besar dari 'super-Earth', jadi mengapa tidak 'mega-Earth'," kata Profesor Dimitar Sasselov dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics (CfA), seperti Liputan6.com kutip dari BBC, Selasa (3/6/2014). Ia juga menggunakan kata 'the Godzilla of Earths!  alias 'Godzilanya Bumi'. 

"Namun tak seperti monster di film, Kepler-10c punya implikasi positif bagi kehidupan." 

Kepler-10c, seperti namanya, terdeteksi oleh Teleskop Kepler milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), dari kedipan cahaya yang ditimbulkan saat ia lewat di depan bintang induknya, Kepler-10. 

Berdasarkan teknik tersebut, diketahui diameter Kepler-10c, yakni 29.000 kilometer atau dua kali lebih diameter Bumi yang rata-rata 12.742 km. 

Sementara, untuk mengetahui massanya, para ilmuwan menggunakan instrumen Harps-North milik Telescopio Nazionale Galileo di Canary Islands. Ekstraksi pengukuran masa dilakukan dengan menelaah interaksi gravitasi antara planet dan bintang induknya. 

Dikombinasikan dengan diameter, jumlah massa menunjukkan bahwa Kepler-10c bukanlah gumpalan gas raksasa, melainkan terdiri dari bahan yang sangat padat. 

"Sekitar 17 kali lipat massa Bumi, atau bahkan lebih. Dengan tingkat kepadatan 7,5 gram per centimeter kubik, jauh lebih tinggi dari apa yang kita ketahui dari batuan di Bumi ( 5,5 gram per centimeter kubik )," kata Profesor Sasselov. "Tapi ingat, ini adalah planet yang sangat besar, yang berarti mineral yang sama (seperti di Bumi) terkompresi sangat padat." 

Pertanyaannya, mungkinkah ada kehidupan di sana?

Menurut para ilmuwan, hal menarik dari temuan itu adalah usia bintang induk Kepler-10C mencapai 11 miliar tahun -- dari awal evolusi alam semesta di saat generasi  ledakan bintang-bintang belum terlalu lama untuk membuat elemen berat yang dibutuhkan untuk membentuk planet berbatu.

"Menemukan Kepler-10c memberitahu kita bahwa planet berbatu dapat terbentuk jauh lebih awal dari yang kita duga. "Dan bila batu terbentuk, kehidupan juga mungkin ada," kata Profesor Sasselov.

Meski demikian, jangan buru-buru bayangkan ada alien yang tinggal di sana. Kepler-10c mungkin terlalu dekat dengan bintangnya, kondisi yang terlalu panas bagi terbentuknya kehidupan. 

Apalagi diketahui, bintang Kepler-10 juga menjadi induk bagi 'dunia lava', yakni Planet Kepler-10b yang memiliki tiga kali massa Bumi dan mengorbit bintangnya sekali dalam 20 jam - See more at: http://news.liputan6.com/read/2057801/ilmuwan-temukan-planet-kepler-10c-godzilanya-bumi#sthash.IzNefJjU.dpuf
0 komentar

Terkuak, Kawah Tumbukan Asteroid Sebesar Mobil di Planet Mars


https://blogger.googleusercontent.com/img/proxy/AVvXsEjsNvQB_jxua87X3oUTGK1QTHNFKMIcwhmtemhFFcly_3lmH4OWrGP2Qug7QMXol-wfVHAiE94S1HIK7shq-Z9y39nCNiwI1h-g7M41QA9jdR9lQhbMW53JH7cUzrrVXdJbjmY-lBv6AaX1yvsLndXV1ga-ddnBFJ67ANp27SrdwPqEVoE1VBt6pn8pLA0xGA=

 Jakarta Kemajuan teknologi angkasa memungkinkan pemantauan kejadian-kejadian Planet Merah yang tadinya belum bisa diamati oleh para ahli ruang angkasa di bumi. Baru-baru ini, Space.com memuat suatu laporan tertanggal 25 Mei 2014 tentang pembentukan kawah baru di permukaan Mars.
Pesawat angkasa NASA telah menandai suatu kawah baru di planet Mars yang ukurannya cukup besar untuk dimuati setengah lapangan bola. Kawah ini adalah tempat tumbukan baru yang terbesar yang pernah terlihat di Planet Merah dengan menggunakan foto-foto orbiter.
Mars Reconnaissance Orbiter milik NASA mengambil foto kawah baru itu setelah muncul mendadak pada Maret 2012. Para ilmuwan misi mengatakan bahwa itulah untuk pertama kalinya kejadian kawah tumbukan baru di planet manapun dapat disaksikan oleh para ilmuwan menggunakan perbandingan gambar-gambar sebelum dan sesudah kejadian.
Kawah ini sepertinya tebentuk oleh asteroid seukuran suatu mobil dalam suatu peristiwa tumbukan yang mirip dengan ledakan meteor di Chelyabinsk, Rusia, yang memporakporandakan jendela-jendela, menghancurkan ratusan bangunan dan melukai lebih dari 1.000 orang, kata sumber-sumber NASA.
Bopeng baru di planet Mars ini diamati pertama kali sekitar dua bulan lalu oleh Bruce Cantor, seorang ilmuwan di Malin Space Science Systems. Ia bertugas menyusun laporan mingguan cuaca di Mars.
Cantor mengamati suatu titik gelap yang tidak biasanya ketika sedang memperhatikan badai-badai debu menggunakan gambar-gambar yang diambil menggunakan Mars Color Imager, atau MARCI, yaitu suatu kamera pemantau cuaca yang dibuat oleh Malin Space Science Systems dan terpasang di Mars Reconnaissance Orbiter milik NASA.
“Sebenarnya bukan itu yang sedang saya cari,” kata Cantor. “Saya sedang melakukan pemantauan biasa tentang cuaca dan sesuatu mencuri pandangan saya. Kelihatannya biasa-biasa saja, dengan pancaran-pancaran cahaya yang berasal dari titik pusatnya.”
Setelah menyimak arsip gambar-gambar harian tempat itu, Canton menyimpulkan tanggal terjadinya tumbukan itu. Kawah itu tidak ada pada tanggal 27 Maret 2012 dan baru muncul sejenak sebelum foto tanggal 28 Maret 2012.
Gambar-gambar selanjutnya yang diambil menggunakan Context Camera (CTX) dan High Resolution Imaging Science Experiment (HiRISE) mengungkapkan adanya dua kawah utama di tempat itu.
Lubang-lubang itu dikelilingi oleh lebih dari selusin bopeng-bopeng kecil, yang sangat boleh jadi tercipta oleh kepingan-kepingan asteroid yang meledak atau bahan-bahan yang terlempar dari kawah-kawah utama.
Kawah terbesarnya yang agak dangkal berukuran 48,5 meter kali 43, 5 meter. Kemungkinan kawah itu tercipta karena tumbukan suatu benda sepanjang 3 hingga 5 meter, demikian perkiraan Kepala Penyidik HiRISE, Alfred McEwen dari Universitas Arizona di Tucson.
Ukuran itu kurang dari sepertiga panjangnya asteroid yang menghantam atmsofer bumi di dekat Chelyabinsk. Bedanya, atmosfer Mars jauh lebih tipis daripada atmosfer bumi, sehingga Planet Merah lebih rentan terhadap hantaman-hantaman asteroid. Suatu penelitian tahun lalu mendapati bahwa Mars kemungkinan besar dihujani lebih dari 200 asteroid setiap tahunnya. (Ein)


0 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Info info ter'update - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger